Minggu, 14 April 2013

Aksi Cyber Terrorism di Manca Negara






Berbagai potensi ancaman serius dapat ditimbulkan dari kegiatan para cyber terrorism,
seperti melakukan serangan dan penetrasi terhadap sistim jaringan komputer serta infrastruktur
telekomunikasi milik pemerintah, militer atau pihak lainnya yang dapat mengancam keselamatan
kehidupan manusia. Beberapa contoh kegiatan cyber terrorist di manca negara antara lain, di
Amerika Serikat, pada bulan Februari 1998 terjadi serangan (breaks-in or attack) sebanyak 60 kali
perminggunya melalui media Internet terhadap 11 jaringan komputer militer di Pentagon. Dalam
cyber attack ini yang menjadi target utama para cyber terrorist adalah Departemen Pertahanan
Amerika Serikat (DoD). Di Srilanka, pada bulan Agustus 1997, sebuah organisasi yang bernama the Internet Black Tigers yang berafiliasi kepada gerakan pemberontak Macan Tamil (the Liberation Tigers of Tamil Eelam) menyatakan bertanggung jawab atas kejahatan email (email bombing, email harrasment, email spoofing, etc.) yang menimpa beberapa kedutaan serta kantor perwakilan pemerintah Srilanka di manca negara. Tujuan akhirnya adalah kampanye untuk melepaskan diri dari Srilanka dalam memperjuangkan kemerdekaan rakyat Tamil. Di Cina, pada bulan Juli 1998.

sebuah perkumpulan cyber terrorist atau crackers terkenal berhasil menerobos masuk ke pusat komputer sistim kendali satelit Cina dan berhasil mengacaukan “selama beberapa waktu” sistim kendali sebuah satelit milik Cina yang sedang mengorbit di ruang angkasa. Tujuan utama dari aksi ini adalah untuk melakukan protes terhadap gencarnya investasi negara barat di Cina. Di Swedia, pada bulan September 1998, pada saat kegiatan pemilihan umum, sejumlah cyber terrorist berhasil melakukan kegiatan sabotase yaitu merubah (defaced) tampilan website dari partai politik berhaluan kanan dan kiri. Dimana Website links partai politik tersebut dirubah tujuannya ke alamat situs-situs pornografi sehingga sangat merugikan partai karena kampanye partai secara elektronik melalui Internet menjadi terhambat. Di Indonesia sendiri, sekitar bulan Agustus 1997, cyber
terrorist atau hackers dari Portugal pernah merubah (defacing) tampilan situs resmi dari Mabes ABRI (TNI), walaupun dengan segera dapat diantisipasi. Kemudian pada bulan April 2004 situs resmi milik KPU (Komisi Pemilihan Umum) juga berhasil di hack dengan teknik defacing, namun dengan segera pelakunya yaitu seorang konsultan Teknologi Informasi suatu perusahaan di Jakarta dapat segera diamankan oleh pihak kepolisian. Namun sebenarnya masih banyak lagi aktivitas para cyber terrorist di negara-negara lain yang masih berlangsung hingga saat ini.
Beberapa analis menyatakan bahwa kegiatan cyber terrorism dewasa ini sudah dapat
dikategorikan sebagai peperangan informasi berskala rendah (low-level information warfare)
dimana dalam beberapa tahun mendatang mungkin sudah dianggap sebagai peperangan informasi 3 yang sesungguhnya (the real information warfare). Seperti contoh pada saat perang Irak-AS, disana diperlihatkan bagaimana informasi telah diekploitasi sedemikian rupa mulai dari laporan peliputan TV, Radio sampai dengan penggunaan teknologi sistim informasi dalam cyber warfare untuk mendukung kepentingan komunikasi antar prajurit serta jalur komando dan kendali satuan tempur negara-negara koalisi dibawah pimpinan Amerika Serikat. Hal ini sudah dapat dikategorikan sebagai aksi cyber warfare atau cyber information, dimana disinformasi serta kegiatan propaganda oleh pasukan koalisi menjadi salah satu bukti peruntuh moril pasukan Irak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar